Blogger templates

BThemes

Komunikasi Yang Baik dan Benar

Selasa, 16 Oktober 2012

Sobat yang suka mencari kebaikan kali ini saya share tentang komunikasi yang baik dan benar. Mungkin sedikit percakapan ini akan menjadi pandangan yang berbeda untuk menambah pengetahuan sobat semua. Mari kita cermati dan ambil poin yang baik untuk kita lakukan. Dan tidak ada salahnya kita untuk mempraktekkannya. Langsung saja kita baca bersama. . . hehehe

ORTU dengan Pak Ustadz

Dalam kebimbangan yang amat dalam tentunya saat ingin memutuskan suatu masalah kadang butuh orang yang lebih mengerti solusi yang terbaik. Pada saat itu ada ibu yang datang kerumah ustadz untuk meminta saran tentang anaknya yang ingin melanjutkan sekolah. Berikut dialognya

“Begini ustadz … kami meminta saran tentang Ahla ini, sebaiknya ia melanjutkan sekolah ke Agama atau Umum, kami selaku orang tua yakin sekolah Umum itu jauh lebih cocok baginya sedangkan sekolah Agama itu tidak menjanjikan sama sekali”

“Kalau menurut Ahla bagaimana?”

“Ahla pengennya di sekolah Agama sebab sekolah Agama itu adalah sekolah impian Ahla dari dulu, sedangkan sekolah Umum memang bagus sih.., tapi bukan yang Ahla inginkan tadz”

Hal yang sudah wajar jika dimasyarakah bahwa seorang ustadz tentunya dapat mengarahkan untuk memberi saran yang terbaik menurut mereka namun hal itu nampaknya sangat kental sekali dilingkungan kita. Semoga saja itu menjadikan hal yang baik. Karena seorang ustadz dianggap mampu dan bijak dalam meyelesaikan masalah.


Catatan penting:

Tak ada yang salah dengan melakukan pendekatan lebih baik terhadap anak-anak kita, yakinlah dengan komunikasi yang baik tidak akan mengurangi kehormatan kita sebagai orang tua.

Orang tua seharusnya mengajak anaknya berdialog tentang hal apa yang harus anaknya lakukan, orang tua hendaknya sering bertanya tentang apa-apa yang anaknya inginkan dan dari sanalah kemudian akan terjadi saling pemahaman, saling meminta, saling memberi dan saling mendorong untuk melakukan hal terbaik.

Kita seringkali menemukan masalah seperti ini dimana orang tua sudah punya cita-cita dengan sekolah anaknya kelak, dan pada akhirnya anak merasa sekolah sebagai tekanan yang terus menerus dampak seriusnya adalah anak akan melakukan ‘pemberontakan’ dalam berbagai bentuk.

Orang tua hanya memahami bahwa anak harus menurut kemauan orang tuanya, anak-anak tidak tahu hidup dan kehidupan dan persoalan masa depan anak adalah baku urusan orang tua, padahal seorang anak adalah manusia juga, hanya saja ia masih dalam bentuk yang kecil, ia mempunyai keinginan, harapan dan juga cita-cita dalam hidupnya.

Ketika orang tua mengetahui keinginan atau cita-cita anaknya lalu kemudian ternyata cita-cita itu tidak sesuai dengan harapan orang tuanya, maka sebaiknya orang tua tidak serta merta meluapkan emosinya lalu menjustis bahwa sang anak telah melakukan kesalahan besar.

Bertanyalah kepada anak Anda tentang cita-citanya, lalu mulailah korek keterangan tentang tentang apa-apa yang telah ia lakukan untuk memulai melangkah mewujudkan cita-citanya itu, lakukanlah komunikasi sebaik mungkin agar anak Anda bias berfikir rasional dan merasa ‘nyaman’ untuk memberitahukan hal-hal yang ia inginkan. Dari sini orang tua akan dapat memberikan sebuah penilaian apakah cita-cita anaknya hanya berupa angan-angan kosong ataukah benar-benar sebuah cita-cita serius yang akan ia perjuangkan.


"Orang tua harus pandai membaca situasi dimana ia harus memberikan support, kapan ia harus memberikan saran, dan bagaimana membuat solusi yang baik dan juga mengapa harus melakukan sebuah tindakan menegakkan disiplin"

Saya yakin kita semua ingin menjadi orang tua yang baik, yaitu orang tua yang mampu memahami, membimbing dan juga menjadi teman yang baik bagi anak-anak kita. Mungkin kita pandai melakukan komunikasi yang baik dengan rekan sejawat, teman seangkatan dan juga ditengah masyarakat luas, tetapi ternyata kita ‘bermasalah’ saat berkomunikasi dengan keluarga dan anak-anak kita.

Bisa jadi kita ini dianggap sebagai tempat curhat yang baik bagi sahabat-sahabat kita yang sedang dirundung masalah tetapi kita tidak mampu mendengarkan curahan hati anak-anak kita.

Kita seringkali bisa memberikan saran dan solusi yang sangat baik terhadap permasalahan yang sedang dihadapi sahabat kita, tetapi kita tiba-tiba menjadi begitu bodoh dengan persoalan yang anak-anak kita hadapi.

Share this article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
© Copyright 2010-2011 Blog Mengenal Sejarah All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.